Islam dan Budaya Lokal Jawa

Oleh: Dr. Ulfah Fajarini, M.Si

Akulturasi adalah suatu proses sosial yang timbul mana kala ada sebuah kebudayaan asing yang masuk dan kebudayaan itu diterima serta diolah oleh suatu kelompok masyarakat tanpa menghilangkan ciri khas kebudayaan masyarakat itu sendiri. Ritual sendiri adalah suatu teknik atau cara yang membuat suatu adat kebiasaan menjadi suci (sanctify the custom). Ritual menciptakan dan memelihara mitos, adat sosial, dan agama. Ritual bisa bersifat pribadi ataupun berkelompok. Wujudnya bisa berupa tarian,drama,doa,dan sebagainya.

Jenis-jenis akulturasi dalam bidang keagamaan , yaitu: slametan atau wilujengan, Daur hidup, (Tingkeban, Melahirkan, Upacara memberi nama, Upacara kekah, Tedhak sinten, Pemakaman dan ritus kematian, Nyekar), PerayaanTahunan, Siyam, Tirakat, Bertapa.

Islam telah mengalami akulturasi dengan budaya lokal yang ada di Indonesia, khususnya pada daerah di jawa. Pada akulturasi tersebut sebaiknya masyakarat mengambil hal positif dari akulturasi tersebut. Untuk mengkaji terlebih lanjut, sebaiknya masyarakat juga menggali lebih lanjut inti atau ajaran apa yang di ambil dari ritual-ritual keagamaan yang selama ini telah dilakukan.

Memandang Sekaten, oleh karena itu, jangan hanya dalam bingkai perspektif agama an sich atau dalam kacamata budaya lokal – budaya Jawa – belaka. Cara pandang yang demikian akan mengakibatkan distorsi yang cenderung memunculkan perdebatan yang kunjung berhenti. Perdebatan tersebut akan bermuara pada masalah tafsir terhadap agama – dimensi normatif dan historis serta Islam sebagai das sein dan das sollen – serta berujung pada perpecahan dan perselisihan pendapat bila perbedaan tersebut tidak dibingkai dalam upaya untuk memperoleh dan memperkuat jalinan ”ukhuwah” Islamiyah, Wathoniyah, dan Basyariah.

Perayaan Sekaten dalam masyarakat Jawa – khususnya masyarakat Kota Yogyakarta dan sekitarnya – yang telah begitu mengakar kuat dan mentradisi tidak hanya di kalangan grass root (akar rumput) tapi juga masyarakat keseluruhan pada umumnya tidak dapat dipungkiri merupakan hasil dari ”sinergisasi” dan ”akulturasi” (perpaduan) kebudayaan, antara Islam (sebagai agama sekaligus ”budaya”) dengan budaya lokal setempat. Uraian berikut ini dimaksudkan untuk mencegah adanya perselisihan dan wacana yang sifatnya distortif dalam memandang perayaan Sekaten.

Hubungan dan kolaborasi antara, Islam sebagai ”teks besar” atau ”grand narrative” dengan budaya lokal tidak lagi dapat dipandang dalam frame penundukkan an sich – Islam menundukan (atau) ditundukkan oleh budaya lokal – tetapi harus dipandang bahwa proses akulturasi tersebut malah semakin menunjukkan kekayaan atau keberagaman ekspresi budaya Islam setelah bersinggungan atau bertemu dengan bangunan budaya lokal. Islam tidak melulu dipandang dalam dimensi keuniversalitasannya – walaupun pada titik ini orang yang beragama Islam harus tetap berkeyakinan bahwa ajaran Islam adalah ajaran yang paripurna dan universal – tetapi juga bahasa dan sikap akomodatif ”Islam” dalam menerima dan mengapresiasi budaya lokal. Di sisi lain, budaya lokal tidak pula melulu kita pandang sebagai bagian yang harus selalu mengalah kepada Islam, namun ia – budaya lokal – pasti mempunyai kacamata sendiri dalam membahasakan Islam menurut perspektifnya sendiri. Cara pandang yang seperti ini akan menghasilkan konstruksi pemahaman baru yang peranannya sangat signifikan dalam proses pembauran dan perpaduan antara dua unsur budaya yang berbeda sehingga menghasilkan akulturasi budaya yang massif dan mengakar di masyarakat tanpa menghilangkan substansi dari dua unsur budaya yang bertemu.

Perspektif lain yang ingin dihadirkan melalui perayaan Sekaten adalah Islam telah mengalami pembacaan ulang – dalam hal ini bukan bersifat merubah nilai atau ajaran substansial Islam – melalui kacamata pribumi atau lokalitas yang sudah pasti berbeda dengan Islam di tempat asalnya, Jazirah arab atau Timur Tengah. Dalam hal ini telah terjadi proses ”Pribumisasi Islam” – meminjam terminologi Gus Dur – atau telah terjadi upaya membumikan Islam – menurut Syafi’i Ma’arif – terhadap nilai-nilai substansial dalam Islam. Sebuah proses bargaining budaya telah terjadi yang mengikutsertakan dua unsur budaya yang bertemu. Proses tawar-menawar ini melibatkan perilaku adaptasi dan akomodasi dengan semangat menciptakan tatanan budaya baru yang dapat diterima bersama.

Ada hikmah yang dapat kita tarik dari perayaan Sekaten yang telah berlangsung dalam rentang waktu yang cukup lama tersebut, yakni adanya proses dialektika yang panjang dalam upaya mewujudkan ”Pribumisasi Islam” atau upaya ”membumikan Islam”. Proses ”Pribumisasi Islam” di tanah air, biasanya, seringkali atau malah ”harus” melibatkan budaya dan tradisi lokal yang ada, tentunya dengan pembacaan yang kritis dan pemaknaan yang lebih terbuka. Bila hal ini dijadikan pelajaran dalam melihat dua corak keislaman di Indonesia, Islam modernis dan Islam Tradisionalis, ini bukan bermaksud menyederhanakan, maka bukan penentuan benar atau salah yang digunakan dalam memahami dua corak tersebut, melainkan lebih pada nilai perjuangan yang tetap menjunjung budaya lokal dan tradisinya. Sikap kritis dan kearifan yang diliputi semangat keterbukaan untuk menerima perbedaan dan mengutamakan dialog dalam menyikapi perbedaan yang ada harus selalu menjadi prioritas pertama dan utama yang tak dapat ditawar-tawar lagi.

Melalui pembacaan atau sikap keberagaman seperti ini diharapkan bahwa hadirnya Islam dalam suatu masyarakat tidak serta merta menghilangkan tradisi dan budaya lokal yang ada. Kedatangan Islam di tengah-tengah tradisi dan budaya lokal, sebaliknya, malah harus dijadikan media bagi sebuah proses dialog antar budaya (cultural dialogue) untuk menemukan kebersamaan dalam menghadirkan masyarakat yang lebih inklusif-pluralis terhadap perbedaan yang ada. Hal ini terbukti lewat perayaan Sekaten yang paling tidak telah mencerminkan proses di atas. Prinsip lain yang tidak boleh dilupakan dalam kehidupan keberagamaan adalah prinsip humanisme – dalam konteks ini harus menyentuh prinsip humanitarianisme yang memandang manusia dan sejarah kemanusiaannya sebagai satu rangkaian proses menjadi (becoming to) – yang memanusiakan manusia dan menjadikan agama (Islam dan juga agama-agama lainnya) mampu untuk menjawab segala problematika kehidupan manusia. Apalagi di tengah kondisi bangsa yang saat ini mulai terlena oleh buaian kehidupan konsumeristik-konsumtif dan hedonistik yang telah meninggalkan aspek-aspek lokalitas atau local genius sebagai identitas kultural dan penanda paling signifikan bagi kita bila tetap ingin dianggap sebagai bangsa yang bermartabat. Ini menjadi tantangan kita bersama bukan. Mampukah kita menghadapinya? Fastabiqul Khairaat…