Template Gambar Artikel Atau Portofolio1

Oleh: Imam Munandar


BOBROKNYA PENDIDIKAN TANPA KARAKTER

“Jika anda bertanya apa manfaat pendidikan, maka jawabannya sederhana: Pendidikan, membuat orang menjadi lebih baik dan orang baik tentu berprilaku mulia.” (Plato, 428-347 SM)

Kutipan filsuf Yunani diatas merupakan pandangan yang sangat idealis yang menganggap bahwa manusia dibentuk oleh dunia ide dan cita-cita, bukan oleh situasi sosial yang nyata (konkret dan material). Pandagan semacam itu masih banyak memiliki pengikutnya sekarang, bahwa pendidikan masih dipandang sebagai cara untuk membuat manusia menjadi lebih baik, bijak, dan pendidikan menghasilkan manusia-manusia yang mendukung berjalannya masyarakat ideal.[1]

Namun, tampaknya tetap ada sebagian orang yang merasa tak puas terhadap dunia pendidikan, baik akses, proses maupun hasilnya. Mereka ada yang berpendapat bahwa orang-orang yang berkelakuan tidak baik justru banyak yang lahir dari pendidikan. Bahkan, pandangan itu memunculkan pandangan pesimis sekolah, pendidikan yang formal yang berlembaga. Ivan Illick, misalnya, adalah pemikir humanis radikal dalam bukunya Deschooling Sociaty (Masyarakat Tanpa Sekolah) menolak sekolah formal menurutnya memasung kebebasan dan perkembangan manusia. Sekolah dianggapnya sama sekali tak memadai bagi perkembangan anak-anak kaum muda.[2]

Bahkan banyak yang mengkritik bahwa pendidikan sekarang jauh dari nilai-nilai dan norma-norma agama, sehingga banyak orang tua yang kurang percaya dengan pendidikan formal atau atau disebut dengan “Sekolah” contohnya, Musisi Ternama Ahmad Dhani yang tidak percaya dengan pendidikan Formal, menurut dhani belajar bukan hanya disekolah, cukup home schooling sudah cukup untuk pendidikan anak-anaknya, dan masih banyak lagi para orang tua dengan kasus serupa yang kurang percaya dengan pendidikan formal, mereka melihat ulah para pendidik yang mulai keterlaluan, yang dalam tingkatan tertentu justru bersifat anti kemanusiaan. Pendidik (Guru) ternyata bukanlah manusia yang sempurna dan sekolah tampaknya perlu dipertanyakan. Bahkan, seorang sastrawan besar nusantara, Pramoedya Ananta Toer, pernah mengatakan dengan nada kasar “Jangan tuan percaya pada pendidikan sekolah. Seorang guru yang baik masih bisa melahirkan bandit-bandit yang sejahat-jahatnya, yang sama sekali tidak mengnal prinsi, apalagi kalau guru itu sudah bandit pula pada dasarnya.”[3]

Kita tak perlu menutup-nutupi realitas (kenyataan) yang ada, tak perlu bermain pada wilayah citra (Imag), pendidikan memeng bercita-cita mulia yang harus dihormati, termasuk menghormati lembaga dan actor-aktornya (termasuk para guru). Bagi orang yang tak mau brfikir realistis dan jujur, kutipan kata-kata Promoedya Ananta Toer itu memang terkesan melecehkan dunia pendidikan dan kemegahan posisi guru. Namun, kalau kita mau menempatkannya sebagai kritik terhadap pendidikan, kata-kata itu seharusnya justru bisa digunakan bukan hanya untuk evaluasi diri, melainkan juga untuk melihat kenyataan yang benar-benar terjadi.

PENDIDIKAN KARAKTER DALAM SUDUT PANDANG ISLAM

Dalam islam, tidak ada disiplin ilmu yang terpisah dari etika-etika Islam. Dan pentingnya komparasi antara akal dan wahtu dalam menentukan nilai-nilai moral terbuka untuk diperdebatkan. Bagi kebanyakan muslim segala yang dianggap halal dan haram dalam islam, dipahami sebagai keputusan Allah tentang benar dan baik. Dalam islam terdapat tiga nilai uatama, yaitu akhlak adab dan keteladanan.

Akhlak merujuk kepada tugas dan tanggung jawab selain ssyariah dan ajaran Islam secara umum sedangkan term adab merujuk kepada sikap yang dihubungkan dengan tingkah laku yang baik. Sebagai usaha identic denggan ajaran agama, pendidikan karakter dalam islam memiliki keunikan dan perbedaan dengan pendidikan karakter di dunia Barat. Perbedaan-perbadaan tersebut mancakup penekanan terhadap prinsip-prinsip agama yang abadi, aturan dan hukum dalam memperkuat moralitas, perbedaan pemahaman tentang kebenaran, penolakan terhadap otonomi moral sebagai tujuan pendidikan moral, dan penekanan pahala di akhirat sebagai motivasi perilaku bermoral. Inti dari perbedaan-perbedaan ini adalah keberadaan wahyu Ilahi sebagai sumber dan rambu-rambu pendidikan karakter dalam Islam. Akibatnya, pendidikan karakter dalam Islam lebih sering dilakukan secara doktriner dan dogmatis, tidak secara demokratis dan logis.[4]

Pendekatan semacam ini membuat pendidikan karakter dalam Islam lebih cenderung pada teaching right and wrong. Atas kelemahan ini, pakar-pakar pendidikan Islam kontemporer seperti Muhammad Iqbal, Sayed Hosen Nasr, Naquib Al-Attas dan Wan Daud, menawaran pendidikan yang memugkinkan pembicaraan yang menghargai sebagaimana pendidikan moral dinilai.

Kekayaan pendidikan Islam dengan ajaran moral yang sangat menarik untuk dijadikan content dari pendidikan karakter. Namun demikian, pada tataran operasional, pendidikan Islam belum mampu mengolah content ini menjadi materi yang menarik dengan metode-metode dan tekhnik yang efektif.

Karena tujuan pendidikan secara umum adalah untuk memanusiakan manusia, tafsir (2008:29) memberikan ibarat dengan sebuah bawang merah, kalau kita memegang bawah merah dan mengupas bagian luarnya. Kita mengupas kulit bawang. Kita kupas lagi, yang kita temukan sama kulit bawang pada akhirnya kita temukan inti bawang terebut yaitu “Lembaga” (kotiledon) bawnag. Lembaga inilah yang akan tumbuh bila ditanam.

Nah dalam hal ini kita harus mencari “lembaga” manusia yaitu inti manusia. Bila bagian ini yang dijadikan sasaran utama pendidikan, maka kita mengharap mendidik manusia. Dalam kaitannya dengan hal tersebut Syaibani mengemukakan bahwa manusia itu terdiri dari tiga unsur, yaitu jasmani, rohani dan akal. Pendidikan harus mengembangkan ketiga aspek tersebut secara seimbang dan terintegrasi.

Lebih lanjut tafsir mengmukakan bahwa dalam Al-Quran surat al-Hujarat (49:14) Allah memberitahu bahwa inti manusia adalam Iman. Iman yang begitu tinggi kedudukannya dalam khidupan manusia. Menurut ayat tersebut letak iman ada didalam “qolbu”, bukan dikepala atau jasmani. Ini amat penting untuk diperhatikan.

Dalam hal ini, manusia dikendalikan oleh imannya, jadi inti manusia adalah imannya, karena iman itu di qolbu, maka itulah yang harus menjadi sasaran pendidikan.

MASA DEPAN ANAK TERGANTUNG PSIKOLOGINYA

Setelah kita ketahui betapa pentingnya pendidikan karakter dalam pendidikan, yang perlu ditanamkan sejak dini (sejak masa kanak-kanak), yang sudah dijelaskan diatas, dalam pendidikan karakter perlu ditanamkan tiga aspek, Akhlak, Adab/moral dan keteladanan, jika ketiganya dapat dikolaborasikan dan ditanamkan kepada anak sejak dini, maka proses pembelajaran dalam pendidikan akan berjalan sesuai dengan apa yang kita semua harapkan.

Anak-anak ibaratkan ladang yang kosong, yang belum sama sekali terdapat tanaman diladang terseebut, seorang pendidik harus benar-benar tau apa yang harus ditanamkan pada anak, kebaikan akan tumbuh kebaikan pula, dan sebaliknya, seperti apa yang dikatakan oleh Abu ‘Ala berikut :

“Akan tumbuh dan berkembang seorang anak sebagaimana perlakuan dan pembiasaan orang tuanya terhadapnya. Anak tidak mungkin menjadi hina dan tercela dengan tiba-tiba, tapi orang dekatnyalah yan akan menjadikan hina dan tercela”. Abu ‘Ala

            maka dari pada itu para pendidik dan orang tua wajib memperhatikan perkembangan psikologi anak sehingga apa yang dicita-citakan orang tua dan pendidik bisa diterima oleh anak, deengan melihat keinginnan anak itu sendiri, dan jangan pernah memaksakan anak itu harus jadi apa, tugas kita sebagai pendidik hanya memfasilitasi dan memberikan bekal berupa akhlak adab dan  moral kepada anak. Seperti kutipan pekataan Sayidina Ali Bin Abi Thalib berikut :

“Janganlah engkau memaksakan anak-anakmu sesuai dengan pendidikanmu, karena sesungguhnya mereka diciptkan untuk zaman yang bukan zaman kalian. Cetaklah tanah selama ia masih basah dan tanamlah kayu selama ia masih lunak” Ali bin Abi Thalib.

DAFTAR BACAAN

Abdul Majid, Dian Andayani, Pendidikan Karakter Perspektif Islam PT Remaja Rosdakarya Bandung : 2011

Fatchul Mu’in, Pendidikan Karakter – Konstruksi Teoretik dan Praktik, Yogyakarta:Ar-Ruzz Media, 2011

Robert J. Havignurst, Perkembangan Manusia dan Pendidikan, Jakarta: Jemmar , 1995

[1] Fatchul Mu’in, Pendidikan Karakter – Konstruksi Teoretik dan Praktik, (Yogyakarta:Ar-Ruzz Media, 2011) hal. 21

[2] Ivan Illick, Bebas dari Sekolah, (Jakarta: Sinar Harapan—Yayasan Obor Indonesia, 1982)

[3] Pramodya Ananta Toer, Jejak Langkah, (Jakarta: Lentera Dipantara, 2006), hal. 291.

[4] Abdul Majid, Dian Andayani, Pendidikan Karakter Perspektif Islam, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya: 2011) hal. 58