Peranan Agama Dalam Pelestarian Lingkungan

 Oleh: Andri Noor Ardiansyah, M.Si

ABSTRAK

Ancaman kerusakan dan bencana lingkungan akibat ulah mansia menunjukan  kecendungan yang terus meningkat.  Peningkatan gas CO2, kelangkaan air bersih, punahnya berbagai species dan pencemaran udara hendaknya menjadi suatu perhatian khusus  dari semua kalangan agar bisa menyelematkan kehidupan manusia di dunia ini. Peranan agama diharapkan dapat menumbuhkan semangat dan memiliki kesadaran tinggi agar  keluar dari krisis lingkungan yang kian terpuruk. Karena di dalam ajaran agama mengandung nilai-nilai luhur yang dijadikan landasan manusia sebagai ‘’khalifah fil ard” dalam mengelola alam lingkungan

 Kata Kunci : Kerusakan Lingukngan, Bencana, Peranan Agama

 

PENDAHULUAN

Allah SWT menciptakan alam lingkungan di dunia ini pada dasarnya digunakan untuk memenuhi hajat kebutuhan hidup manusia. Agar alam lingkungan terus menerus  memberikan manfaat bagi manusia, maka sudah sepantasnyalah manusia dikenakan suatu kewajiban untuk memelihara lingkungan tersebut. Akan tetapi seiring dengan semakin pesatnya ilmu pengetahuan dan teknologi yang  disertai pula dengan sifat keserakahan atau ketamakan  manusia dalam mengeksploitasi sumberdaya alam telah membuat alam lingkungan ini menjadi  rusak tak terkendali, alhasil bencana lingkungan pun terus mengalir tiada henti. Lalu apakah bencana  ini akan akan terus terulang kembali akibat prilaku manusia yang tidak mengindahkan lagi  kaidah-kaidah atau nilai-nilai lingkungan?.

Sudah banyak informasi atau berita yang kita dapatkan mengenai terjadinya kerusakan alam yang disertai dengan bencana lingkungan yang  terjadi di seluruh pelosok nusantara bahkan dunia. Banjir, tanah longsor, pencemaran (air, tanah dan udara), erosi, meningkatnya kadar CO2 di udara, kepunahan jenis spesies,  masalah sampah, menipisnya lapisan ozon serta kasus yang masih hangat perihal ilegal logging dan pembakaran hutan adalah contoh bencana lingkungan yang kerap terjadi sekaligus bukti suatu keniscayaan bahwa manusia telah memperlakukan alam dengan sewenang-wenang. Tindakan filosofi antroposentrisme telah menjadikan alam kian rusak, karena alam terus menerus dieksploitasi oleh manusia akan manfaat yang terkandung di dalamnya tanpa diimbangi dengan kesadaran manusia untuk memperbaiki atau merehabilitasi alam lingkungan sekitar. Hal ini sangatlah selaras dengan firman Allah SWT dalam Al-Qur’an

Yang artinya : Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat)  perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).  (Q S Ar Ruum : 41)

Berbagai kerusakan lingkungan di dunia telah menunjukan kecendrungan peningkatan yang sangat memprihatinkan banyak ilmuwan. Sebagian mereka telah membuat model prediksi kerusakan lingkungan  yang berujung kepada hancurnya sisitem kehidupan di dunia ini.  Lebih lanjut, Muh Aris Marfai ( 2005: 41) mengemukakan bahwa sampai dengan tataran ini maka sebetulnya permasalahan lingkungan mempunyai korelasi yang sangat positif  dengan tujuan hidup manusia (materialisme, hedonisme, developmentalisme). Ditambah lagi semangat kapitalisme dan liberalisme yang kian membara dan merajalela  demi mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya  membuat alam ini semakin rusak binasa.   

Keadaan  ini sangatlah bertentangan dengan eksistensi manusia sebagai khalifah (pemimpin) di muka bumi ini yang mempunyai tugas dan peranan sebagai pengatur atau pengelola alam lingkungan. Tentunya, sebagai khalifah manusia dituntut berlaku adil dan mampu untuk melakukan pengelolaan terhadap seluruh aspek kehidupan dan faktor-faktor yang terkait dengannya. Dalam konteks pengelolaan lingkungan hidup, manusia mempunyai kewajiban untuk melakukan pemeliharaan dan memberikan hormatnya terhadap sesama komponen lingkungan (Muh Aris Marfai,  2005: 41). Namun sifat-sifat keduniawian yang berorientasi kepada keuntungan materi semata ditambah dengan adanya sifat nafsu serakah yang tak terkendali  telah menutupi hati nurani dan  fitrah manusia, sehingga  lupa akan kewajibaannya sebagai khalifah (pemimpin) di muka bumi ini.

 ANCAMAN KERUSAKAN LINGKUNGAN

Krisis lingkungan di dunia tengah terjadi, degradasi lingkungan tengah dirasakan semakim memburuk dan terpurui dalam dekade terakhir. Keruskan hutan, Pemanasan global, kepunahan jenis, kekeringan yang panjang, kelangkaan air bersih, pencemaran lingkungan dan polusi udara, serta ancaman senjata biologis, merupakan sederet permasalahan lingkungan di dunia yang bisa menghancurkan peradaban umat manusia. Oleh karenanya perlu upaya baik pemekiran ataupun tidakan yang dapat mengatasi krisis tersebut

Meningkatnya kadar CO2 sangat terkait dengan berkurangnya luas hutan dunia baik secara alami maupun ulah manusia. Di Indonesia yang dikenal sebagai paru-paru dunia karena nmemiliki 10  % luas hutan tropis di dunia telah mengalami keruskan hutan yang mengkhawatirkan. Hal ini terjadi pada tahun 1980 bahwa kerusakan hutan di Indoensia mencapai satu juta hektar per tahun dan pada tahun 2005 kerusakan hutan Indonesia mencapai dua juta hektar pertahun. Diperparah lagi terjadi pada periode tahun 1997-2000 mengalami keruskan hutan tertingii mencapai 3,8 juta per tahun (Iwan Setiawan, 2005). 

Keruskan lingkungan juga terjadi pada wilayah perairan. World Water Development Report (WWDR) sebuah lapran PBB tetnatng ketersediaan air bersih dunia (dalam Maryoto, 2003) mengemukakan bahwa setiap harinya sekitar 2 juta ton sampah mencemari wilayah perairan dan produksi limbah cair mencapai 1500 meter kubik. Apabila satu litr limbah cair mencemari delapan liter air bersih, maka setidaknya 12.000 km kubik air bersih terpolusi di dunia.

Kerusakan lingkungan lainnya semakin banyaknya species yang terancam punah atau punah sama sekali. Indoenessia sebagai salah satu negara dengan kekayaan flora dan fauna yang sangat besar merupakan negara yang memiliki daftar spesies yang ternacam punah paling banyak yaitu 126 burung, 63 mamlia dan 21 reptil (MoF?FAO,1991). Berkurangnya keragaman jenis (biodeversitas) selain mengakibatkan kerugian ekonomi juga dapat mengganggu kestabilan suatu ekosistem

Pencemaran udara juga mengalami suatu hal yang mengkhawatirkan. Di daerah perkotaan, beberapa unsur pencemar seperti SO2, CO, NO2, HC, partikulat dan oksidan fotokimia telah melampaui batas. Sementara 70 % penduduk dunia hidup di koat-kota dengan kandungan partikulat melebihi ambang batas WHO ((Iwan Setiawan, 2005). 

 

BAGAIMANAKAH AGAMA MENGATUR DALAM  PENGELOLAAN LINGKUNGAN

 Kapatuhan Terhadap Syari’at

Sains dan teknologi memang diperlukan, tetapi itu saja tidak cukup, kita memerlukan suatu pendekatan yang berbasis agama untuk terlibat dalam keluar dari krisis lingkungan. Pada dasarnya dalam mengatasi permasalahan krisis lingkungan berkelanjutan tidak hanya saja cukup dengan mengandalkan dan mengembangkan kekuatan dari sisi IPTEK saja, melainkan terlebih dari pada itu reaktualisasi atau pengamalan nilai-nilai religiusitas/keberagamaan menjadi agenda penting dan tidak boleh terlupakan  dan menjadi “roh” yang menjadi landasan dan memberikan daya atau kekuatan  dalam mengatasi krisis lingkungan berkelanjutan tersebut.  Dengan demikian, metode  ini akan mendorong  manusia untuk senantiasa memelihara kualitas  lingkungan bukan hanya didasarkan atas etika lingkungan saja, melainkan terlebih dari itu pelaksananan menjaga kualaitas lingkungan di letakan dalam konteks ibadah yakni kepatuhan terhadap syariat yang akan dinilai suatu catatan kebaikan atau pahala di sisi Allah SWT. Sebaliknya barang siapa yang mengabaikan kaidah atau nilai lingkungan sehingga menyebabkan kerusakan dan bencana  di muka bumi dan menelan banyak korban,  maka akan mendapat dosa dan siksa karena telah melakukan suatu kedzaliman terhadap lingkungan sekitar.  Firman Allah SWT dalam surat Al Qashash ayat 77  yang artinya “….dan Janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan “.

Penghayatan keagamaan baru terfokus kepada pelaksanaan fikih ibadah mahdloh seperti salat, saum, zakat, dan haji, sementara fikih-fikih lainnya seperti fikih politik, ekonomi atau lingkungan  tentunya masih terabaikan. Oleh karenanya menjadi agenda  tugas para ulama dan para pemuka agama untuk menggagas serta memasyarakatkan fikih lingkungan pada masyarakat. Perlu ditanamkan kepada masyarakat sebuah keyakinan bahwa membuang sehelai sampah ke tempatnya atau membuang duri dari jalanan itu adalah ibadah

Menempatkan Alam Sesuai Fungsinya

Bencana lingkungan yang terjadi saat ini diakibatkan oleh akumalasi beban yang terlalau berat sehingga keauatan penahan dilampaui (Hendrajaya, 2005). Penyebab bencana lingkungan dapat dikabatkan oleh alam dan ulah manusia. Penyebab bencana oleh manusia dalam menempatkan sebidang lahan sesuai dengan fungsi dan kemampuanya serta kesalahan manusia dalam mengeksploitasi dan mengolah sumberdaya alam yang tersedia, seperti longsor, banjir, kekeringan, intrusi air laut, kebakaran, pencemaran (air, tanah dan udara), sampah hujan asam, erosi dan kelaparan (Darsiharjo, 2005). Hal ini sesuai dengan aturan Islam, sebagaimana tercantum dalam Firman Allah SWT dalam Al-Qur’an yang artinya  “Dan Kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan  Kami tumbuhkan  padanya  segala  sesuatu menurut ukuran.”  ( QS Al Hijr : 19)

Oleh karenanya dapat kita menarik kesimpulan bahwa terjadinya bencana lingkungan yang kerap terjadi adalah tidak pandainya bahkan kecerobohan manusia didalam memanfaatkan alam sekitar secara berlebihan yang tidak memperhitungkan ukuran kemampuannya

Konsep Amanah  dan Tanggung Jawab

Ajaran Islam sebagai agama yang sempurna dan memberikan rahmat bagi keseluruhan alam memberikan kesempatan kepada manusia untuk mempelajari dan memahami Sunatullah berupa kaidah-kaidah alam yang terjadi di alam sekitra serta menegaskan tanggung jawab manusia, baik kepada sesama manusia maupun kepada lingkungan alam. Ajaran Islam tidak hanya mengajarkan untuk mengambil manfaat dari sumber daya alam yang telah dsediakan, tetapi terlebih dari pada itu manusia diberikan tanggung jawab dan amanah berupa aturan main  dalam pengelolaan dan pemanfaatannya  demi kesejahteraan bersama yang berkelanjutan sebagai hasil keseluruhan yang diinginkan.

Salah satu Sunnah Rasullullah SAW menjelaskan bahwa setiap warga masyarakat berhak untuk mendapatkan manfaat dari suatu sumberdaya alam milik bersama untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidupnya sepanjang dia tidak melanggar, menyalahi atau menghalangi hak-hak yang sama yang juga dimiliki oleh orang lain sebagai warga masyarakat. Penggunaan sumberdaya alam yang langka atau terbatas harus diawasi dan dilindung, dalam hal ini perlindungan suatu usaha konservasi (perlindungan) dan rehabilitasi (pembaharuan). Ini semua bisa tercapai apabila manusia sadar akan amanah sebagai pemelihara bumi.

Konsep Manfaat dan Madharat

Selain itu dalam ajaran islam terdapat nilai manfaat/kebaikan dan mudharat/kerusakan yang menjadi landasan suatu pijakan manusia dalam melakukan amaliyah atau perbuatan sehari-hari. Nilai manfaat harus jauh lebih besar daripada nilai mudharat di dalam melakukan aktivitas kehidupan dimanapun kita berada  Kaitannya dalam pengelolaan dan pemanfaatan lingkungan maka aspek manfaat dan madharat menjadi suatu acuan yang tidak boleh diabaikan. Sebagai contoh kegiatan eksplorasi bahan tambang pada dasarnya hukumnya “mubah/boleh”, karena pada dasarnya dipergunakan  untuk kemashalatan umat manusia, Dalam perspektif fiqih lingkungan, eksplorasi  termasuk minyak bumi, diperkenankan secara syar’i, asalkan Li Ajli al-Manfa’ah wa al-Mashlahah (untuk kemanfaatan dan kebaikan) bagi manusia, serta tidak menimbulkan kerugian besar dalam jangka panjang. Akan tetapi kegiatan eksplorasi bahan tambang tersebut menjadi “haram” apabila nilai madharatnya lebih besar daripada nilai manfaatnya, semisal j selama kegiatan eksplorasi bahan tambang banyak aspek-aspek lain yang dirugikan seperti pencemaran air, tanah dan udara yang sudah melebihi ambang batas . Kaidah fiqihnya, Lâ Dhara Wa Lâ Dhirâr (tidak menimbulkan kerugian kepada orang lain dan membahayakan diri sendiri). Moch Eksan (2006)  menambahkan walaupun manusia oleh Allah SWT diberi kebebasan dan keleluasaan  mengeksplorasi dan mengeksploitasi bumi dengan segala isinya, tetapi manusia mendapatkan amanah untuk memakmurkannya, dan tidak membuat kerusakan di muka bumi. Sebab, hal itu termasuk al-Fasâd Fî al-Ard (perusakan di bumi) yang tergolong perbuatan maksiat, mungkar serta jinayah/kejahatan. Bagi pihak-pihak yang melakukan perusakan dikenankan kewajiban merehabilitasi dan memberi kompensasi bagi korban. Mereka juga harus diberi sanksi hukum yang penanganannya diserahkan kepada Ulil Amri berdasarkan kerusakan lingkungan yang ditimbulkannya, karena masuk Jarîmah Ta’zîr.

Integrasi Ilmuwan dan Agamawan

Pada konteks tataran ideal,  Islam sebagai agama yang paripurna tidak mengkotak-kotakan antara ilmu keduniaan dan keagamaan, karena semuannya bersumber dari Al-khalik Maha Pencipta yang semuanya adalah ilmu yang wajib dipelajari oleh seoarang muslim serta mengintegrasikannya tanpa terkecuali. Hanya saja kehidupan sekulerisme dan liberalisme yang  mencoba memisahkan kehidupan dunia dan agama, sehingga persoalan keduninaan termasuk urusan bagaimana mengatasi kerusakan lingkungan, peran serta ilmu keagaaman tidak disertakan. Sehingga dalam pemecahan urusan kerusakan kelingkungan hanya berorientasi pada kepentingan materi sesaat tanpa didasari oleh nilai-nilai luhur agama yang menjadi “ruh” penggerak dalam melakukan suatu tindakan, alhasil  persoalan lingkungan dapat diatasi dalam waktu yang relatif tidak lama dikarenakan hanya berorientasi pada kepentingan segelintiran kelompok tertentu saj (dalam hal ini kepentingan proyek). Berbeda jikalau dalam pelaksanaan mengatasi persoalan lingkungan disertakan nilai-nilai agama, karena di dalamnya ada suatu perintah dan larangan yang harus dikerjakan oleh manusia demi kemashlahatan bersama tanpa terkecuali.

Melihat pentingnya ilmu keduniaan dan keagamaan dalam hal ini, maka langkah upaya konkret untuk mengintegrasikan ilmu keduniaan dan keagamaan tersebut,  perlu dilakukan suatu forum silaturahmi antara pemuka agama dan ilmuwan untuk memberikan pemikiran bersama kaitannya dalam mengatasi kerusakan lingkungan. Para ilmuwan memberikan arahan secara konsep-konsep ilmiah dalam mengatasi kerusakan lingkungan dan para pemuka agama (ulama) memberikan semangat spritulaisme yang melandasi itu semua.   

Dalam dua dekade terakhir setidaknya ada upaya para ilmuwan dan ahli agama untuk bersatu dalam menyikapi situasi krisis lingkungan yang melanda dunia. Hal tersebut terlihat sejak sebuah pertemuan pemimpin agama dan sains yang disebut: ‘Join Apppeal by Religion and Science for the Environment,” yang diadakan bulan Mai 1992 di Washington, D.C.  Para ilmuwan dan pemimpin agama salah satunya menyatakan: “Kami yakin bahwa sains dan agama dapat bekerjasama untuk mengurangi dampak yang berarti dan membuat resolusi atas krisis lingkungan yang terjadi di bumi. Tetapi kami yakin  bahwa dimensi krisis ini sebenarnya tidak sepenuhnya diambil hati oleh para pemimpin kita yang memimpin lembaga-lembaga penting dan juga pemimpin industri. Namun demikian kita menerima kewajiban kita untuk membantu memberikan pengetahuan dan pemahaman terhadap jutaan orang yang kita layani dan ajarkan mengenai konsekwensinya apabila terjadi krisis lingkungan dan apa yang harus dilakukan untuk mengatasi hal ini” (Calvin B. DeWitt, The Good in Nature and Humanity in Stephen  R, Kellert dan Timothy J Farnham,  Island Press. 2002).

Indonesia senantiasa inisiatif mengadakan kerjasama penyelamatan lingkungan melalui tokoh agama juga telah dilakukan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)  bekerjasama dengan The World Bank  mengundang pemuka-pemuka agama  mengadakan Conference on Religion and Conservation pada 18 Desember 2002, yang  menghasilkan ‘Kebun Raya Charter’ yang intinya melibatkan peran para pemuka agama dan ulama dalam menanggulangi permasalah konservasi alam dan lingkungan hidup. Laporan pertemuan ini dapat dilihat pada publikasi LIPI: Peran Agama dan Etika Dalam Konservasi Sumber Daya Alam dan Lingkungan (A.A. Arief, E.B. Prasetyo & A.Kartikasari, LIPI 2003). Pada Bulan Mei 2004, para ulama pesantren yang difasilitasi oleh  Konsorsium INFORM berkumpul untuk merumuskan Fikih Lingkungan dan menghasilkan dokumen Fiqh al-Biah (A.S. Muhammad dkk Laporan INFORM 2004; TROPIKA  Juli- September 2004  hal 41), aksi serupa dilakukan lagi oleh CI Indonesia untuk menggalang kesadaran umat Islam melalui  pelatihan santri, lokakarya Islam dan da’wah langsung ke lapangan (lihat artikel: Merawat Alam Kembali Pada Fitrah Agama; Da’wah Konservasi di Wakatobi; Pulang Dari Bodogol Menjadi Da’i Leuweng).

 

SIMPULAN

Tindakan manusia yang berlebihan dalam pemanfaatan alam lingkungan mengakibatkan kerusakan lingkungan yang terus meingkat. Hal ini menandakan bahwa eksistensi manusia sebagai seorang pemelihara muka bumi sudah mulai luntur, sehingga perlu suatu pendekatan yang secara fitrah dapat mengembalikan kesadaran manusia tersebut. Ajaran Agama Islam sebagai agama rahmatalil’aalamiin telah memberikan rambu-rambu agar bagaimana manusia bertindak dalam mengelola alam lingkungan secara arif dan bijaksana, sehingga kebermanfaatannya dapat dirasakan oleh semua mansia tanpa merusak sedikitpun

Sikap dan keteladanan pemimpin Agama dalam memelihara lingkungan dan kelestarian alam perlu kembali dilihat dan diperthankan bahkan harus ditingkatkan, misalnya dalam Islam banyak sekali Wisdom (kearifan) yang dilakukan oleh Rasulullah SAW, dalam menghormati makhluk hidup:sebagaimana diriwayatkan, bahwa Nabi SAW menegur sahabatnya yang dalam pada saat perjalanan mereka menangkap anak burung yang berada di sarangnya. Ketika merasa kehilangan anak, induk burung itu pun mengiringi—terbang diatas rombongan –Rasullullah. Ketika menyaksikan hal itu nabi bersabda: “Siapakah yang menyusahkan burung ini dan mengambil anaknya? Kembalikan anak-anaknya padanya.” (hadits riwayat Abu Daud).

 

DAFTAR PUSTAKA

AL Qur’an dan Terjemahannya,1990. Departemen Agama Republik Indonesia, Jakarta.

Bruce Mitchell, dkk. 2000. Pengelolaan Sumberdaya dan Lingkungan. Yogyakarta. Gadjah Mada University Press.

Marfai, Aris (2005). Moralitas Lingkungan. Yogyakarta : Kreasi Wacana Yogyakarta

Ministry of Forest (MoF), (1991). Tropical Forest Action Plan. Jakarta : Ministry of Fores

Naim, Mochtar (2001). Kompendium Himpunan Ayat-ayat Al-Qur’an yang beraitan dengan Fisika dan Geografi. Jakarta : Hasanah

Prasetyo, Arief, E.B.  & Kartikasari  A.. (2003): Peran Agama dan Etika Dalam Konservasi Sumber Daya Alam dan Lingkungan. Jakrta : publikasi LIPI

Setiawan, Iwan dan Malik, Yakub( 2005). Keruskan Alam dan Ancaman Lingkungan. Bandung : Jurnal GEA  vol 5 no 2 Oktober 2005. ISSN 1412-0313 hal 96-100. Jurusan Pendidikan Geografi FPIPS UPI Bandung.

Tasir Hadist Sunan al-Baihaqi al-Kubra Juz 6 hal 69 no 11166